Sungguh Menyenangkan Berwisata di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau
Kalau saya ditanya; apa yang menarik dari Kota Batam? Saya akan menjawab: wisata konferensi / MICE, kuliner, wisata belanja tas dan fashion lainnya, cokelat, serta parfum. Dan bentuk wisata itulah yang saya nikmati pada setiap saya berkunjung ke Kota Batam.
Kota Batam terletak di Provinsi Kepulauan Riau yang berdekatan dengan negara Singapura, berada di sebuah pulau dengan luasan 620 km2, yang berarti Pulau Batam termasuk katagori pulau kecil (definisi pulau kecil adalah pulau dengan luasan < atau = 2000km2). Letak Kota Batam yang berdekatan dengan Singapura menjadikan Kota Batam memiliki daya tarik tersendiri. Interaksi yang kental antara ke dua masyarakatnya menjadikan kehidupan masyarakat Kota Batam lebih semarak, baik sosial maupun ekonomi.
Kota Batam berada di jazirah Melayu, sehingga kebudayaan Melayu meresap ke dalam kehidupan sehari hari masyarakatnya. Namun demikian, karena Kota Batam sudah menjadi kota dagang dan industri, sehingga kombinasi budaya lain dengan budaya setempat bisa terjalin kuat. Saat ini penduduk Kota Batam setidaknya terdiri dari: suku Melayu, Jawa, Tionghoa, Minang, Batak, dan kini banyak pendatang dari Flores. Akulturasi budaya-nya terjalin harmonis antara satu dengan lainnya.
Kota Batam adalah kota terbesar di Kepulauan Riau dan merupakan kota dengan populasi terbesar ke tiga di wilayah Sumatra setelah Medan danPalembang, Menurut Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batam Per April 2012 jumlah penduduk Batam mencapai 1.153.860 jiwa. Metropolitan Batam terdiri dari tiga pulau, yaitu Batam, Rempang danGalang yang dihubungkan oleh Jembatan Barelang. Batam merupakan sebuah kota dengan letak sangat strategis. Selain berada di jalur pelayaran internasional, kota ini memiliki jarak yang cukup dekat dengan Singapuradan Malaysia. Batam merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan terpesat di Indonesia. Ketika dibangun pada tahun 1970-an awal kota ini hanya dihuni sekitar 6.000 penduduk dan dalam tempo 40 tahun penduduk Batam bertumbuh hingga 158 kali lipat.
Pulau Batam dihuni pertama kali oleh orang melayu dengan sebutan orang selat sejak tahun 231 Masehi. Pulau yang pernah menjadi medan perjuangan Laksamana Hang Nadim dalam melawan penjajah ini digunakan oleh pemerintah pada dekade 1960-an sebagai basis logistik minyak bumi di Pulau Sambu.
Pada dekade 1970-an, dengan tujuan awal menjadikan Batam sebagai Singapura-nya Indonesia, maka sesuai Keputusan Presiden nomor 41 tahun 1973, Pulau Batam ditetapkan sebagai lingkungan kerja daerah industri dengan didukung oleh Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam atau lebih dikenal dengan Badan Otorita Batam (BOB) sebagai penggerak pembangunan Batam.
Seiring pesatnya perkembangan Pulau Batam, pada dekade 1980-an, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 1983, wilayah kecamatan Batam yang merupakan bagian dari kabupaten Kepulauan Riau, ditingkatkan statusnya menjadi Kotamadya Batam yang memiliki tugas dalam menjalankan administrasi pemerintahan dan kemasyarakatan serta mendudukung pembangunan yang dilakukan Otorita Batam.
Di era reformasi pada akhir dekade tahun 1990-an, dengan Undang-Undang nomor 53 tahun 1999, maka Kotamadya administratif Batam berubah statusnya menjadi daerah otonomi, yaitu Pemerintah Kota Batam untuk menjalankan fungsi pemerintahan dan pembangunan dengan mengikutsertakan Badan Otorita Batam.
Sejarah BATAM masa lalu

Mungkin sebagian dari kita hanya mengetahui Batam sebagai kota Industri. Tapi, tahukah kita bahwa Batam yang berpusat di Batam Centre ini hanya kota kecil yang terdiri dari 12 kecamatan..???
Nama Batam sendiri dahulunya adalah Pulau Batang - yang ditandai pada sebuah peta perlayaran VOC tahun 1675 yang masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden. Bahkan sumber lain menyebutkan nama Batam saat ini hanya ditemukan di Traktat London tahun 1824. Menurut sejarah, Batam pertama kali dihuni oleh orang Laut, sebutan lain untuk orang Laut ini adalah orang Selat. Diperkirakan merekalah suku asli Batam yang ber-ras Melayu. Orang Selat ini menghuni Batam pertama kali pada 231 M yang disebut Pulau Ujung pada zaman Singapura. Namun, ada pula yang menyebutkan bahwa Pulau yang pernah dijadikan sebagai medan peperangan oleh Laksamana Hang Nadim dalam menumpas Penjajah ini telah ditempati oleh Orang Selat pada abad ke 14, atau tepatnya diakhir tahun 1300an. Mereka menempati wilayah ini sejak Zaman kerajaan Tumasik - yang saat ini disebut - Singapura.
Pulau Batam saat itu dipimpin oleh Laksamana Hang Nadim, yang berpusat di Bentang - saat ini di sebut - Pulau Bintan. Lalu dipimpin oleh Sultan Johor hingga pertengahan abad ke 18 yang mana kerajaan Malaka saat itu dalam masa kejayaan. Hingga terbentuklah kerajaan Riau Lingga yang dipimpin oleh Yang Dipertuan Muda Riau. Kemudian dari berbagai silsilah keluarga kerajaan Melayu ini disebut - sebutlah nama Raja Isa.
Raja Isa sendiri adalah Putra dari Raja Ali dengan Permaisurinya yang bernama Raja Buruk binti Raja Abdulsamad. Raja Ali sendiri adalah cucu dari Yang Dipertuan Muda Riau V ibni Daeng Kamboja Yang Dipertuan Muda Riau III. Dari silsilah keluarga kerajaan tersebut, jelaslah bahwa Raja Isa masih keturunan Yang Dipertuan Muda Riau. Pada zamannya, Raja Isa adalah tokoh penting dalam keluarga kerajaan Riau.
Menurut penuturan sejarah, Raja Isa lah yang kemudian membuka sebuah perkampungan baru di Batam yang kemudian diberi nama ' Nongsa'. Namun, apakah benar bahwa Raja Isa lah yang menbuka ' Nongsa'?? Entahlah, ada dua sumber yang menguatkan akan kebenaran jejak sejarah ini, yakni: Sumber Belanda dari tahun 1833 [Beknoopte Aantekening over het Eiland Bintang 1833] dan 1837 [Beknopte Aantekening van Het Eiland Bintang Nederlansch Etablissant en Eenige daar toe Behoorende Eilande 1837] yang masih tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta.
Raja Isa lah yang kemudian memerintah Nongsa dengan gelar Sultan Abdulrahman Syah Lingga-Riau selama kurang lebih 20 tahun ( 1812 - 1832). Lalu, saat Raja Isa wafat pada tahun 1832, tampuk kerajaan kemudian dikendalikan oleh Yang Dipertuan Muda Riau ( Raja Muhammad Yusuf ) berpusat di Pulau Penyengat. Pada 1895, Yang Dipertuan Muda Riau V Raja Muhammad Yusuf menunjuk Tengku Umar bin Tengku Mahmud untuk 'mengelola' Batam yang berpusat di Pulau Buluh.
Hingga akhir kejayaan kerajaan Melayu pada abad 1911, Batam dipimpin oleh Raja Jaafar yang kemudian dihapuskanlah Kerajaan Riau - Lingga oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1913 (Lagi - lagi Belanda... Huufff..!!!).
Perkembangan Batam setelah runtuhnya sistem Kerajaan Riau-Lingga
Di era 1960an, Batam ditunjuk sebagai Basis Logistik minyak bumi yang bersumber di Sambu. Lalu, sepuluh tahun kemudian, Batam ditetapkan sebagai Lingkungan Kerja Daerah Industri dengan dukungan dari Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam yang dikenal sebagai Badan Otorita Batam, yang berlandaskan pada Kepres no. 41 tahun 1973. Dilanjut dengan disahkannya Peraturan Pemerintah pada tahun 1980an, dengan no.34 tahun 1983 yang menegaskan bahwa Kecamatan Batam ditingkatkan menjadi Kotamadya Batam yang Bertugas menjalankan Administrasi Pemerintahan dan Kemasyarakatan dan mendukung pembangunan yang dilakukan Otorita Batam.
Pada akhir tahun 1990an, berdasarkan pada Undang - Undang no.53 tahun 1999, maka Kotamadya Batam disahkan menjadi Daerah Otonomi untuk menjalankan fungsi Pemerintahan dan Pembangunan dengan bekerjasama dengan Badan Otorita Batam. Lalu, setelah melalui proses panjang selama hampir 2 tahun, akhirnya dikeluarkanlah Undang - Undang no.25 tahun 2002 tentang pembentukan Provinsi Kepulauan Riau.
Hingga kini, Batam telah disahkan menjadi bagian dari wilayah Kepulauan Riau yang berpusat di Tanjung Pinang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar